Selasa, 24 Januari 2012

SEJARAH KOTA BOJONEGORO

Kabupaten Bojonegoro

Kabupaten Bojonegoro, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bojonegoro. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora (Jawa Tengah) di barat. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia

Geografi

Bengawan Solo mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian selatan adalah pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.

Kota Bojonegoro terletak di jalur Surabaya-Cepu-Semarang. Kota ini juga dilintasi jalur kereta api jalur Surabaya-Semarang-Jakarta

Sejarah Kabupaten Bojonegoro

Masa kehidupan sejarah Indonesia kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak abad I yang membedakan warna kehidupan sejarah Indonesia jaman Madya dan jaman Baru. Sedangkan Bojonegoro masih dalam wilayah kekuasaan Majapahit, sampai abad XVI ketika runtuhnya kerajaan Majapahit, kekuasaan pindah ke Demak, Jawa Tengah. Bojonegoro menjadi wilayah kerajaan Demak, sehingga sejarah Bojonegoro kuno yang bercorak Hindu dengan fakta yang berupa penemuan-penemuan banyak benda peninggalan sejarah asal jaman kuno di wilayah hukum Kabupaten Bojonegoro mulai terbentuk. Slogan yang tertanam dalam tradisi masyarakat sejak masa Majapahit “sepi ing pamrih, rame ing gawe” tetap dimiliki sampai sekarang.

Bojonegoro sebagai wilayah kerajaan Demak mempunyai loyalitas tinggi terhadap raja dan kerajaan. Kemudian sehubungan dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam tanpa disertai gejolak. Raden Patah, Senopati Jumbun, Adipati Bintoro, diresmikan sebagai raja I awal abad XVI dan sejak itu Bojonegoro menjadi wilayah kedaulatan Demak. Dalam peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah kerajaan Pajang dengan raja Raden Jaka Tinggkir Adipati Pajang pada tahun 1568. Pangeran Benawa, putra Sultan Pajang, Adiwijaya merasa tidak mampu untuk melawan Senopati yang telah merebut kekuasaan Pajang 1587. Maka Senopati memboyong semua benda pusaka kraton Pajang ke Mataram, sehingga Bojonegoro kembali bergeser menjadi wilayah kerajaan Mataram. Daerah Mataram yang telah diserahkan Sunan Amangkurat kepada VOC berdasarkan perjanjian, adalah pantai utara Pulau Jawa, sehingga merugikan Mataram. Perjanjian tahun 1677 merupakan kekalahan politik berat bagi Mataram terhadap VOC. Oleh karena itu, status kadipaten pun diubah menjadi kabupaten dengan wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Toemapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang pada tanggal 20 Oktober 1677. Maka tanggal, bulan dan tahun tersebut ditetapkan sebagai HARI JADI KABUPATEN BOJONEGORO. Pada tahun 1725 Susuhunan Pakubuwono II naik tahta. Tahun itu juga Susuhunan memerintahkan agar Raden Tumenggung Haria Mentahun I memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Jipang dari Padangan ke Desa Rajekwesi. Lokasi Rajekwesi ± 10 Km di selatan kota Bojonegoro. Sebagai kenangan pada keberhasilan leluhur yang meninggalkan nama harum bagi Bojonegoro, tidak mengherankan kalau nama Rajekwesi tetap dikenang di dalam hati rakyat Bojonegoro sampai sekarang.

Peta Bojonegoro dari tahun 1950

Bengawan Solo dilihat dari Bojonegoro

Jembatan di atas Bengawan Solo

Monumen pahlawan

Masjid Agung

Kantor Pos Pusat

Kantor residen

Klenteng Bojonegoro

Daftar Bupati

Tahun

Nama

2008-2013

Drs. H. Suyoto,M.Si.

2003-2008

Kolonel (pur) H M. Santoso

1998-2003

Drs. H. Atlan

1993-1998

Drs. H. Imam Soepardi

1988-1993

Drs. H. Imam Soepardi

1983-1988

Drs. Soedjito

1978-1983

Drs. Soeyono

1973-1978

Kolonel Invantri Alim Sudarsono

1968-1973

Letnan Kolonel Invantri Sandang

1960-1968

R. Tamsi Tedjo Sasmito

1959-1960

R. Soejitno

1955-1959

R. Baruno Djojoadikusumo

1951-1955

Mas Kusno Suroatmodjo

1950-1951

R. Sundaru

1949-1950

R. Tumenggung Sukardi

1947-1949

Mas Surowijono

1945-1947

R. Tumenggung Sudiman Hadiatmodjo

1943-1945

R. Tumenggung Oetomo

1937-1943

R. Tumenggung Achmad Surjodiningrat

1936-1937

R. Dradjat

1916-1936

R. Adipati Aryo Kusumoadinegoro

1890-1916

R. Adipati Aryo Reksokusumo

1888-1890

R. M. Sosrokusumo

1878-1888

R. M. Tumenggung Tirtonoto II

1844-1878

R. Adipati Tirtonoto I

1828-1844

R. Adipati Djojonegoro

1827-1828

R. Tumenggung Sosrodilogo

1825-1827

R. Adipati Djojonegoro

1823-1825

R. Tumenggung Purwonegoro

1821-1823

R. Tumenggung Sosrodiningrat

1816-1821

R. Tumenggung Sumonegoro

1811-1816

R. Prawirosentiko

1800-1811

R. Ronggo Djenggot

1760-1800

R. M. Guntur Wirotedjo

1756-1760

R. Purwodidjojo

1755-1756

R. Ronggo Prawirodirjo I

1743-1755

R. Tumenggung Hario Matahun III

1741-1743

R. Tumenggung Hario Matahun II

1718-1741

Ki Songko (R. Tumenggung Hario Matahun I)

1705-1718

Ki Wirosentiko (R. Tumenggung Surowidjojo)

1677-1705

Pangeran Mas Toemapel