Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bojonegoro. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora (Jawa Tengah) di barat. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia
Geografi
Bengawan Solo mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian selatan adalah pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.
Kota Bojonegoro terletak di jalur Surabaya-Cepu-Semarang. Kota ini juga dilintasi jalur kereta api jalur Surabaya-Semarang-Jakarta
Sejarah Kabupaten Bojonegoro
Masa kehidupan sejarah Indonesia kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak abad I yang membedakan warna kehidupan sejarah Indonesia jaman Madya dan jaman Baru. Sedangkan Bojonegoro masih dalam wilayah kekuasaan Majapahit, sampai abad XVI ketika runtuhnya kerajaan Majapahit, kekuasaan pindah ke Demak, Jawa Tengah. Bojonegoro menjadi wilayah kerajaan Demak, sehingga sejarah Bojonegoro kuno yang bercorak Hindu dengan fakta yang berupa penemuan-penemuan banyak benda peninggalan sejarah asal jaman kuno di wilayah hukum Kabupaten Bojonegoro mulai terbentuk. Slogan yang tertanam dalam tradisi masyarakat sejak masa Majapahit “sepi ing pamrih, rame ing gawe” tetap dimiliki sampai sekarang.
Bojonegoro sebagai wilayah kerajaan Demak mempunyai loyalitas tinggi terhadap raja dan kerajaan. Kemudian sehubungan dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam tanpa disertai gejolak. Raden Patah, Senopati Jumbun, Adipati Bintoro, diresmikan sebagai raja I awal abad XVI dan sejak itu Bojonegoro menjadi wilayah kedaulatan Demak. Dalam peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah kerajaan Pajang dengan raja Raden Jaka Tinggkir Adipati Pajang pada tahun 1568. Pangeran Benawa, putra Sultan Pajang, Adiwijaya merasa tidak mampu untuk melawan Senopati yang telah merebut kekuasaan Pajang 1587. Maka Senopati memboyong semua benda pusaka kraton Pajang ke Mataram, sehingga Bojonegoro kembali bergeser menjadi wilayah kerajaan Mataram. Daerah Mataram yang telah diserahkan Sunan Amangkurat kepada VOC berdasarkan perjanjian, adalah pantai utara Pulau Jawa, sehingga merugikan Mataram. Perjanjian tahun 1677 merupakan kekalahan politik berat bagi Mataram terhadap VOC. Oleh karena itu, status kadipaten pun diubah menjadi kabupaten dengan wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Toemapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang pada tanggal 20 Oktober 1677. Maka tanggal, bulan dan tahun tersebut ditetapkan sebagai HARI JADI KABUPATEN BOJONEGORO. Pada tahun 1725 Susuhunan Pakubuwono II naik tahta. Tahun itu juga Susuhunan memerintahkan agar Raden Tumenggung Haria Mentahun I memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Jipang dari Padangan ke Desa Rajekwesi. Lokasi Rajekwesi ± 10 Km di selatan kota Bojonegoro. Sebagai kenangan pada keberhasilan leluhur yang meninggalkan nama harum bagi Bojonegoro, tidak mengherankan kalau nama Rajekwesi tetap dikenang di dalam hati rakyat Bojonegoro sampai sekarang.
Peta Bojonegoro dari tahun 1950
Bengawan Solo dilihat dari Bojonegoro
Jembatan di atas Bengawan Solo
Monumen pahlawan
Masjid Agung
Kantor Pos Pusat
Kantor residen
Klenteng Bojonegoro
Daftar Bupati
| Tahun | Nama |
| 2008-2013 | Drs. H. Suyoto,M.Si. |
| 2003-2008 | Kolonel (pur) H M. Santoso |
| 1998-2003 | Drs. H. Atlan |
| 1993-1998 | Drs. H. Imam Soepardi |
| 1988-1993 | Drs. H. Imam Soepardi |
| 1983-1988 | Drs. Soedjito |
| 1978-1983 | Drs. Soeyono |
| 1973-1978 | Kolonel Invantri Alim Sudarsono |
| 1968-1973 | Letnan Kolonel Invantri Sandang |
| 1960-1968 | R. Tamsi Tedjo Sasmito |
| 1959-1960 | R. Soejitno |
| 1955-1959 | R. Baruno Djojoadikusumo |
| 1951-1955 | Mas Kusno Suroatmodjo |
| 1950-1951 | R. Sundaru |
| 1949-1950 | R. Tumenggung Sukardi |
| 1947-1949 | Mas Surowijono |
| 1945-1947 | R. Tumenggung Sudiman Hadiatmodjo |
| 1943-1945 | R. Tumenggung Oetomo |
| 1937-1943 | R. Tumenggung Achmad Surjodiningrat |
| 1936-1937 | R. Dradjat |
| 1916-1936 | R. Adipati Aryo Kusumoadinegoro |
| 1890-1916 | R. Adipati Aryo Reksokusumo |
| 1888-1890 | R. M. Sosrokusumo |
| 1878-1888 | R. M. Tumenggung Tirtonoto II |
| 1844-1878 | R. Adipati Tirtonoto I |
| 1828-1844 | R. Adipati Djojonegoro |
| 1827-1828 | R. Tumenggung Sosrodilogo |
| 1825-1827 | R. Adipati Djojonegoro |
| 1823-1825 | R. Tumenggung Purwonegoro |
| 1821-1823 | R. Tumenggung Sosrodiningrat |
| 1816-1821 | R. Tumenggung Sumonegoro |
| 1811-1816 | R. Prawirosentiko |
| 1800-1811 | R. Ronggo Djenggot |
| 1760-1800 | R. M. Guntur Wirotedjo |
| 1756-1760 | R. Purwodidjojo |
| 1755-1756 | R. Ronggo Prawirodirjo I |
| 1743-1755 | R. Tumenggung Hario Matahun III |
| 1741-1743 | R. Tumenggung Hario Matahun II |
| 1718-1741 | Ki Songko (R. Tumenggung Hario Matahun I) |
| 1705-1718 | Ki Wirosentiko (R. Tumenggung Surowidjojo) |
| 1677-1705 | Pangeran Mas Toemapel |
