Senin, 23 Januari 2012

SEJARAH ZENI


Proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan babak baru bagi perjuangan bangsa Indonesia. Dengan proklamasi ini, segenap bangsa Indonesia merupakan suatu “Bangsa” yang merdeka dan berdaulat. Begitu juga tanah air Indonesia menjadi wilayah negara yang berada dalam suasana kemerdekaan. Kedaulatan dan kekuasaan sepenuhnya berada ditangan rakyat serta tidak mengizinkan adanya kekuasaan asing dibumi Nusantara ini.


Proklamasi kemerdekaan tersebut telah membangkitkan pula jiwa dan semangat patriotisme bangsa Indonesia. Sejalan dengan usah pemerintah untuk melengkapi aparatur pemerintah, rakyat bergerak membantu usaha tersebut sehingga dalam waktu yang singkat terbentuklah aparatur pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah-daerah.

Selaras dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada bangsa dan negara, maka pada tanggal 22 Agustus 1945 dibentuklah suatu wadan rakyat pejuang dengan sebutan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Lembaga ini bukan merupakan suatu Tentara Kebangsaan melainkan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP).

Walaupun demikian sudah terkandung maksud untuk melindungi segenap bangsa dalam menghadapi ancaman baik dari dalam maupun dari luar wilayah negara Republik Indonesia.

Sementara Pemerintah secara formal mengesahkan berdirinya BKR, rakyat pejuang secara spontan membentuk kelompok berupa Laskar. Barisan Pejuang yang dilandasi oleh semangat cinta terhadap tanah air. Diantara beberapa Laskar yang memiliki unsur Zeni antara lain Laskar Jawatan Kereta Api, Laskar buruh, Laskar Minyak dan sebagainya.

Mengingat ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia makin lama makin meningkat dan juga sesuai dengan saran dari bapak Urip Soemohardjo yang menyatakan bahwa “aneh suatu negara tampa Tentara” maka pada tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Pada kesempatan ini sebagian Laskar masuk kedalam wadan TKR dan sebagian masih tetap mempertahankan statusnya semula. Beberapa hari setelah maklumat 5 Oktober 1945, pemerintah mengumumkan komposisi personil pimpinan TKR. Soepriyadi diangkat sebagai Pimpinan Tertinggi TKR dan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Umum dengan pangkat Letnan Jenderal. Mula-mula Kepal Staf Umum menyusun organisasi Markas Tertinggi TKR dan Markas Besar Umum di Yogyakarta, sesudah itu disusun Divisi-divisi. Pembentukan TKR 1945, di Jawa timur diikuti pula dengan pembentukan Pasukan Teknik TKR Gajah Mada yang dipimpin oleh Letkol Hasanudin.

Pimpinan TKR Jawa Timur juga menugaskan Ir.Nowo membentuk Dinas Genie. pada saat yang hampir bersamaan Soeratin seorang pegawai pada Osamu 1602 Butai Kairibu Syucoku di Surabaya mengambil alih Butai tersebut .

Atas hasil perundingan OKtober 1945 antara pimpinan TKR Jawa Timur dengan Kolonel Motozima komandan Osamu 10820 Butai Kairibu Syucoku, maka Butai dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 1945, pihak jepang diwakili oleh Mayor Nakamura, pihak Indonesia oleh Soeratin Poewowikarto.

Pada tanggal 15 Oktober 1945 Jenderal Dr.moestopo selaku mewakili Menteri Pertahanan Keamanan RI mengangkat Ir.Nowo dan Soeratin masing-masing sebagai Komandan dan Wakil Komandan Genie.

Tanggal 15 Oktober inilah yang akhirnya ditetapkan sebagai hari Zeni TNI AD. sejak hari tersebut Genie merupakn organisasi militer yang teratur dan mempunyai pimpinan pusat.

Kegiatan pembentukan Genie ini disusul pula dengan pembentukan dinas-dinas maupun satuan Genie didaerah lain.

Di Sumatera pembentukan Genie diawali dengan berdirinya Batalyon Persenjataan yang dipimpin oleh Sdr.Moch.Yasin selaku ketua Komite Nasional Sawahlunto atas persetujuan Komandan Resimen M. Syafei, dan Komandan TKR Kolonel Dahlan Djambek.

Di Aceh pada tanggal 15 Oktober 1945 dibentuk organisasi Genie yang meliputi juga unsur perhubungan, peralatan dan perawatan. Pembentukan Genie di Aceh di pelopori oleh Usman Taing sebagai realisasi pengisian organisasi TKR. Bulan berikutnya yaitu November 1945 dibentuk Dinas Genie di Sumatera Utara sebagai suatu bagian dari Divisi X di Pematang Siantara. Dinas Genie ini dibawah Pimpinan Kapten Mulyadi. Pada akhir tahun 1945 yaitu tanggal 1 Desember 1945, atas perintah KOmandan Batalyon TKR 50 kota dibentuk Genie dibawah pimpinan Letda Chaidir. Jabatan ini Kemudian diganti Kapten Nursani. Kantornya menempati komplek perbengkelan “Yama Sita Butai” di Payakumbuh.

Menyusul kemudian di Sumatera Selatan pada bulan Desember 1945 dibentuk Batalyon Genie dibawah pimpinan Kapten Patiasina.

Pada umumnya dalam Brigade TKR Sumatera Selatan pada saat itu sudah terdapat pasukan Zeni, salah satunya antara lain dalam Brigade TKR “Gajah Mada”, terdapat pasukan perusak (Genie) dipimpin oleh Letnan Muda Harun Al Rasyid (Direktur PT.Caltex).

Di Jawa Barat pengisian satuan Genie dimulai dengan pembentukan Sekolah Genie di Btujajar (Cimahi) pada tanggal 12 November 1945 dibawah pimpinan Sdr.A soeparmadi.

Pada saat tentara inggris mendarat untuk melucuti tentara Jepang, sekolah Genie tersebut dihentikan kegiatannya namun hasil didikannya waktu itu telah berjasa untuk pengisian personil seksi Genie pada Batalyon-Batalyon Resimen 8 ditahun berikutnya.

Di Jawa Tengah pembentukan Genie baru dimulai setelah Instruktur sekolah Genie di Batujajar Bandung karena situasi pindah ke Surakarta. Tanggal 23 Pebruari 1945 para Instruktur tersebut mendirikan lagi sekolah Genie di Desa Kleco (surakarta).

sumber Buku : 45thn Zeni TNI AD,1991 Ditziad

Agresi Militer Belanda, Pierre Heijboer

Bunga Rampai Zeni TNI AD,1998,Pusdikzi

Sejarah Satuan Pusdikzi Kodiklat TNI AD

Tidak ada komentar: